Minggu, 17 November 2013

BELAJAR TARI BALI : PENDET


Ini pertama kalinya aku berlatih tari tradisional Indonesia. Awalnya, kawan saya mengajak saya untuk mengambil kelas tari di Sanggar Tari Natya Nata Raja Bandung.
Dan tari yang aku pilih adalah tari Bali. Alasan saya sederhana , tarian Jawa terlalu halus, saya ingin mempelajari tarian yang lebih tegas dan berani. Walaupun kelak saya juga ingin mempelajari tari Jawa juga, salah satunya tari Gambyong.

Dan akhirnya, setelah menjalani latihan olah tubuh selama enam bulan (saya sebut senam tubuh karena tari Bali awalnya sangat menyiksa tubuh) saya menjalani ujian pertama kelas tari Bali, yaitu tari Pendet. Ujian kedua adalah Tari Panji Semirang, bisa dilihat *editaaaan posting*

Disini saya mau cerita sedikit tentang tari Pendet.
Oh iya, saya bukan gadis keturunan Bali, tapi saya gadis Indonesia, jadi kalau ada teman-teman dari Bali yang lebih menguasai tetek bengek tari Bali, mohon sharing dan koreksinya yaa.. J

Tari Pendet, menurut wikipedia adalah :
Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi (? - 1967).[rujukan?]

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, Pemangku Adat pria dan wanita, dewasa maupun gadis.[rujukan?]

Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripada Tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan, dan perlengkapan sesajen lainnya.[rujukan?]

Nah, sedikit bisa disimpulkan bahwa Tari Pendet pada awalnya adalah tari pemujaan terhadap Dewa-Dewi. Bisa dilihat dari properti yang digunakan untuk menari, yaitu sewadah bokor yang dihiasi dengan daun kelapa, janur kuning. Bokor tersebut berisi serpihan bebungaan yang akan ditaburkan di akhir tari, bunga mawar dan kamboja adalah salah dua bunga yang lazim digunakan.
Taburan bunga ini bermakna penyambutan dan penghormatan terhadap Dewa-dewi yang turun dari langit. Namun dalam peerkembangannya, tari Pendet juga ditarikan untuk menyambut tamu, atau lebih lazim disebut sebagai tarian Selamat Datang. Banyak hotel-hotel di Bali yang menggunakan Tari Pendet sebagai tari penyambutan tamu pada hotel tersebut.

Tari Pendet ini merupakan tarian pertama yang harus dikuasai oleh penari Bali sebelum menarikan tarian lain, misal Tari Panjisemirang, Tari Legong, dan Tari Cendrawasih. Kenapa pertama? Karena gerakan tari Pendet adalah gerakan dasar. Perbendaharaan gerak tarinya masih tergolong sederhana untuk tarian Bali. Misalnya saja Agem, Sledet, Angsel, Nelung/Ngelung, dan Simpuh.

Agem adalah pose yang sering dilakukan dan harus dilakukan dengan benar. Salah agem, salah pula semua gerakan. Jadi, posisi agem itu, kalau bisa dijabarkan dengan kata-kata adalah posisi di mana badan penari mendak/merendah dengan lutut ditekuk sambil serong ke arah kanan/kiri.
Gerakan lain yang tidak kalah uniknya adalah gerakan Sledet, yaitu lirikan mata. Ini adalah gerakan unik tari Bali yang belum ditemui dalam ragam gerakan tarian lain di laur Bali. Beberapa dari kita mungkin tahu, Tari Bali terkenal karena mata penarinya yang melotot sambil bergerak kanan dan kiri. Sebenarnya tidak begitu juga. Gerakan ini hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja. Yang memberi kesan melotot adalah sikap penari yang selalu melihat ke arah penonton. Pelatih tari saya, Bli Gusti mengatakan, Tari Bali adalah tarian yang menantang penonton. Berbeda dengan tari Jawa, mata penari cenderung melihat ke bawah/menunduk.

Bentuk riasan juga cukup sederhana. Rias wajah contohnya, wajah penari dirias biasa dengan warna eyeshadow merah+biru+cokelat+eyeliner+maskara, lipstik warna merah, blush on, titik putih di antara dua mata, dan masing-masing tiga titik putih di pelipis penari.
Untuk tatanan rambut, rambut penari digelung dan ditambahi sanggul kecil dan cemara(rambut palsu) dan diuntaikan ke pundak kanan penari. Untuk aksesorinya sendiri, rambut penari dihias dengan untaian bunga Kamboja kuning dan pink dan tambahan konde emas.

Here we go,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar