Ehm, sebenarnya saya sudah posting mengenai ujian tari
Legong saya, tapi postingan tersebut lebih
dikhususkan untuk make-up dan rias tariannya. Jadi, pada postingan di sini,
saya akan cerita sedikit tentang tari Legong Bali secara umum. Tenaaang,
khususon non pecinta beauty blog, kalian tidak akan menemukan istilah
foundation, eyeliner, benges, lisptick dan lain-lain di postingan ini. Hehehee.
Tari Legong,
Dilansir dari wikipedia.co.id , Legong sendiri artinya adalah Leg = gerakan, dan Gong = Gamelan. Jadi kurang lebih artinya adalah gerakan yang disinkronisasi dengan gamelan / iringan suara. Tari ini pada awalnya hanya ditarikan di lingkungan keraton Bali, oleh karena itu namanya tari Legong Kraton. Pada generasi selanjutnya, tarian ini mulai meluas di luar kraton dan makin banyak orang yang menguasai dan makin banyak variasinya. Sampai saat ini, tari Legong seolah menjadi tarian wajib yang harus dikuasai oleh semua gadis Bali. Sumber .
Menurut saya, tarian ini merupakan salah satu tarian klasik Bali yang paling susah dipelajari. Kenapa? 1. Tari Legong adalah tarian klasik Bali yang banyak pakemnya, 2. Namanya aja tari kraton, pasti banyak aturan-aturan yang harus dituruti, 2. Ekspresi penari diharuskan lebih mantap dan mengena, 3. Musiknya sakral dan terdengar seperti mengandung magis (menurut saya sih, :p). 4. Guru pengajarnyagalak tegas. Yap, thumbs untuk Ibu Ni Nyoman Seriati
yang mengajari saya dan kawan-kawan saya menari Legong. Beliau adalah dosen
Pendidikan Seni Tari UNY yang sudah berkali-kali memiliki jam kerja tari yang
tinggi. Bahkan di beberapa cover kaset iringan, ada pula foto beliau sewaktu
masih muda sedang menari menjadi bintang cover. Hehehe.
Beberapa kali saya membaca artikel mengenai tari Legong, saya berkesimpulan, bahwa tari Legong adalah tarian favorit yang dilukis di media kanvas. Lihat di sini. Beberapa seniman besar pernah melukis liukan tubuh penari Legong ketika melakukan ragam gerak agem sambil memegang kipas. Salah satunya adalah maestro Affandi dan Basuki Abdullah. Selain itu, dari tari yang sudah-sudah, yaitu Tari Pendet dan Tari Panjisemirang, tari Legong ini termasuk tarian yang memiliki kostum paling rumit dan paling tertutup, karena pakaian atasnya adalah lengan panjang plus penutup kepala.
Adapun tariannya sendiri dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama tarian Condong sebagai pengantar legong, dan yang kedua menyusul penari legong utama. Pada umumnya satu orang penari Condong ditemani dua orang Legong. Condong membawa dua kipas dan pada akhir tarian, kipas tersebut diserahkan pada Legong dengan gerakan yang khas.
Tari Legong,
Dilansir dari wikipedia.co.id , Legong sendiri artinya adalah Leg = gerakan, dan Gong = Gamelan. Jadi kurang lebih artinya adalah gerakan yang disinkronisasi dengan gamelan / iringan suara. Tari ini pada awalnya hanya ditarikan di lingkungan keraton Bali, oleh karena itu namanya tari Legong Kraton. Pada generasi selanjutnya, tarian ini mulai meluas di luar kraton dan makin banyak orang yang menguasai dan makin banyak variasinya. Sampai saat ini, tari Legong seolah menjadi tarian wajib yang harus dikuasai oleh semua gadis Bali. Sumber .
Menurut saya, tarian ini merupakan salah satu tarian klasik Bali yang paling susah dipelajari. Kenapa? 1. Tari Legong adalah tarian klasik Bali yang banyak pakemnya, 2. Namanya aja tari kraton, pasti banyak aturan-aturan yang harus dituruti, 2. Ekspresi penari diharuskan lebih mantap dan mengena, 3. Musiknya sakral dan terdengar seperti mengandung magis (menurut saya sih, :p). 4. Guru pengajarnya
Beberapa kali saya membaca artikel mengenai tari Legong, saya berkesimpulan, bahwa tari Legong adalah tarian favorit yang dilukis di media kanvas. Lihat di sini. Beberapa seniman besar pernah melukis liukan tubuh penari Legong ketika melakukan ragam gerak agem sambil memegang kipas. Salah satunya adalah maestro Affandi dan Basuki Abdullah. Selain itu, dari tari yang sudah-sudah, yaitu Tari Pendet dan Tari Panjisemirang, tari Legong ini termasuk tarian yang memiliki kostum paling rumit dan paling tertutup, karena pakaian atasnya adalah lengan panjang plus penutup kepala.
Adapun tariannya sendiri dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama tarian Condong sebagai pengantar legong, dan yang kedua menyusul penari legong utama. Pada umumnya satu orang penari Condong ditemani dua orang Legong. Condong membawa dua kipas dan pada akhir tarian, kipas tersebut diserahkan pada Legong dengan gerakan yang khas.
Satu orang
penari Condong dengan dua orang penari Legong.
Dalam versi asli, Condong menari di awal untuk sekitar
10-15 menit, dan kemudian Legong menari sekitar 30-60 menit. Namun pada versi
pentas biasa, durasi tarian Legong diminimalisir menjadi sekitar 7menit dari
30menit.
Walaupun "cuma" 7 menit tapi bagi saya
mempelajari 7 menit tarian itu membutuhkan enam bulan latihan dan empat jam
berdandan. Banyak gerakan baru yang belum saya pelajari dari kedua tarian
sebelumnya. Di antaranya gerakan agem yang lebih mantap. Ekspresi yang lebih
sangar. Dan gerakan yang lebih rumit. Hampir setiap detik tidak ada waktu yang
disia-siakan untuk tidak menari. Ada yang bertanya, gerakannya tidak sehalus
tari Jawa ya? Iya. Gerakan tari Bali lebih luwes dan lebih mantap. Kata pengajar
tari saya, tari Bali adalah tari yang menantang penonton (melihat ke arah
penonton, bahkan dipelototin), tidak seperti tari Jawa yang cenderung malu-malu
menampakan mata (mata menunduk). Tapi tak perlu jauh-jauh mencari perbedaan
Jawa-Bali, yang dekat saja seperti Jogja dan Solo pun memiliki perbedaan yang
jauh berbeda.
Properti yang digunakan dalam tari ini hanya berupa
kipas. Tapi dilihat dari kostum, tari Legong memiliki kostum yang sangat rumit.
Ada sekitar sepuluh lebih aksesori yang dipakai oleh penari. Termasuk mahkota /
badhong. FYI, badhong ini memiliki berat sekitar 1-2 kg dan dihiasi dengan
bunga kamboja sungguhan agar menambah aroma bebungaan untuk penari. Tapi jika
tidak ada bunga asli, dapat juga digunakan mahkota yang berhias bunga sintetis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar