"Kenapa
harus malu dipanggil Ibu?"
Di sebuah bank, ada mbak-mbak berumur sekitar 20an masuk. Kemudian petugas satpam segera ramah membukakan pintu dan menyambutnya. "Pagi Bu, ada yang bisa kami bantu?", ujar Pak Satpam. Kemudian, bagai mendapat kabar buruk, si Mbak berkata, "Saya ini Mbak lho Pak, saya mau bayar spp", dengan nada agak meninggi.
Kasus dua, ada seorang kawan saya yang bercerita, katanya kemarin baru saja ada yang memanggilnya Ibu. Karena kebetulan teman saya cukup parno oriented, dia mulai berpikir macam-macam. Katanya apakah perempuan seumuran dia rata-rata sudah menikah dan punya anak? Jadi orang pikir dia juga sudah punya anak, jadi wajar dipanggil Ibu?
Kamu? Pernah mengalami hal seperti itu? Kalau saya, pernah. Iya, pernah. Rasanya? Awalnya memang agak gak trimo (cantik-cantik youth gini kok dipanggil Ibu?:p :p *melet panjang*).
Tapi makin lama, biasa aja. Ibu kan panggilan mulia? Ya ga? Selain itu, sosok ibu sebagai makna sempit, yakni wanita yang melahirkan manusia, merupakan sosok yang diagungkan.
Please deh, panggilan Ibu tidak selalu berkonotasi wanita yang sudah berusia kan?
Dipanggil Ibu, juga bermakna kita sudah dianggap dewasa dan bertanggung jawab. Dalam bisnis juga semuda apapun personilnya, seorang bussineswomen pasti akan dipanggil Ibu. Jika kita menjadi ketua rapat, kita dipanggil Ibu. Menjadi guru, tidak peduli kita sudah menikah/belum, atau punya anak atau tidak, pasti akan dipanggil Ibu guru. Menjadi dokter? Aku belum pernah mendengar ada wanita dipanggil Mbak Dokter (cmiiw ni), tapi Ibu Dokter.
Di luar negeri? Tidak ada panggilan Mother untuk wanita secara umum. Tapi di Indonesia, semua wanita berhak dipanggil Ibu.
So, kenapa harus malu dipanggil Ibu?
Di sebuah bank, ada mbak-mbak berumur sekitar 20an masuk. Kemudian petugas satpam segera ramah membukakan pintu dan menyambutnya. "Pagi Bu, ada yang bisa kami bantu?", ujar Pak Satpam. Kemudian, bagai mendapat kabar buruk, si Mbak berkata, "Saya ini Mbak lho Pak, saya mau bayar spp", dengan nada agak meninggi.
Kasus dua, ada seorang kawan saya yang bercerita, katanya kemarin baru saja ada yang memanggilnya Ibu. Karena kebetulan teman saya cukup parno oriented, dia mulai berpikir macam-macam. Katanya apakah perempuan seumuran dia rata-rata sudah menikah dan punya anak? Jadi orang pikir dia juga sudah punya anak, jadi wajar dipanggil Ibu?
Kamu? Pernah mengalami hal seperti itu? Kalau saya, pernah. Iya, pernah. Rasanya? Awalnya memang agak gak trimo (cantik-cantik youth gini kok dipanggil Ibu?:p :p *melet panjang*).
Tapi makin lama, biasa aja. Ibu kan panggilan mulia? Ya ga? Selain itu, sosok ibu sebagai makna sempit, yakni wanita yang melahirkan manusia, merupakan sosok yang diagungkan.
Please deh, panggilan Ibu tidak selalu berkonotasi wanita yang sudah berusia kan?
Dipanggil Ibu, juga bermakna kita sudah dianggap dewasa dan bertanggung jawab. Dalam bisnis juga semuda apapun personilnya, seorang bussineswomen pasti akan dipanggil Ibu. Jika kita menjadi ketua rapat, kita dipanggil Ibu. Menjadi guru, tidak peduli kita sudah menikah/belum, atau punya anak atau tidak, pasti akan dipanggil Ibu guru. Menjadi dokter? Aku belum pernah mendengar ada wanita dipanggil Mbak Dokter (cmiiw ni), tapi Ibu Dokter.
Di luar negeri? Tidak ada panggilan Mother untuk wanita secara umum. Tapi di Indonesia, semua wanita berhak dipanggil Ibu.
So, kenapa harus malu dipanggil Ibu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar