Adik-adik, jika kalian pernah melihat ibu kalian memiliki satu set
cangkir minum teh di rumah, pernah nggak kalian menghitung ada berapa jumlah
semua cangkirnya?
Biasanya jumlahnya ada enam cangkir. Lalu ada satu teko yang
biasanya untuk minum teh. Cangkir-cangkir itu warnanya macam-macam. Ada yang berwarna merah,
kuning, hijau, biru, ungu. Tapi diantara cangkir-cangkir berwarna tadi, ada
yang warnanya putih tapi dia tidak memiliki kuping. Cangkir putih ini terlihat
diam saja di tempatnya.
Ada apa ya? Sedangkan cangkir-cangkir yang
lain berkumpul di dalam lemari.
Sepertinya mereka akan bersiap-siap pergi.
Mau ke mana ya, kira-kira?
”Lihat dong!! Aku si cangkir merah,
warnaku cerah dan bersih!!! Ya kan?”
Kata si cangkir merah kepada
saudara-saudara cangkir yang lain.
”Aku juga!! Cangkir hijau yang
caaaaantiiiiik, hihihihihihi.”
Si cangkir hijau pun tak mau kalah.
”Aku juga, aku juga bersih dan cantik!!”
Cangkir-cangkir lainnya pun tidak mau
kalah.
Tiba-tiba Ibu Teko datang menghampiri
mereka.
”Sudah. Sudah anak-anak. Kalian memang
sudah sangat cantik, bersih dan siap untuk jadi cangkir minuman terbaik sore
ini.”
Semua cangkir berteriak kegirangan.
Hari itu memang sedang ada persiapan acara
minum teh di rumah Bu Fanny.
Dan semua cangkir cantik itu sedang
bersiap-siap.
Tapi ditengah persiapan, Ibu Teko mengatakan
sesuatu kepada Cangkir Putih yang tidak berkuping, ”Putih, sepertinya tamu yang
datang nanti ada lima orang dan sudah dipilih saudara-saudaramu yang lain yang
akan menyediakan teh buat para tamu.”
Ternyata itu alasannya kenapa Cangkir Putih
yang tak berkuping diam saja sejak tadi.
Dia merasa sedih, karena dirinya tidak
akan disediakan di meja. Itu artinya dia akan sendirian di dalam lemari milik
Bu Fanny. Sementara saudara-saudaranya yang lain, pasti senang menjadi penyaji
teh buat para tamu dan tampil dengan cantik. Kasihan dia. Cangkir Putih hanya
bisa melihat dari balik kaca lemari, sementara yang lainnya bersenang-senang.
”Kupingku patah, aku pasti cangkir yang
paling buruk. Beda dengan saudara-saudaraku, kuping mereka lengkap semua dan
orang-orang sepertinya lebih senang memakai cangkir yang berwarna untuk
menyajikan teh.” Cangkir Putih bersedih dalam hati.
Karena kebandelannya sendiri, Cangkir Putih
suatu hari pernah tidak menuruti nasehat Ibu Teko untuk tidak main-main ke
pinggir rak lemari. Jadinya karena kesenangan bermain dan berguling-guling,
Cangkir Putih terjatuh dan kehilangan kupingnya. Sejak saat itu Cangkir Putih
tidak pernah dipilih lagi untuk menyajikan minuman buat para tamu.
Tapi hari ini kok ada yang aneh di acara
minum tehnya?!
Cangkir-cangkir tersebut panik karena para
tamu mencari cangkir berwarna putih.
Wadah cangkir berwarna putih dianggap oleh
para tamu bisa dengan jelas memperlihatkan warna teh yang pas dengan selera
kekentalannya, semakin teh itu berwarna gelap, maka pasti rasanya semakin
pahit, tapi kalau terlalu bening, rasa tehnya juga tidak akan terasa.
Ibu Teko kemudian menghampiri si cangkir
putih tak berkuping, ”Putih, inilah saatnya kamu bisa menjadi cangkir yang akan
bisa membantu saudara-saudaramu lainnya. Hanya kamu satu-satunya cangkir
berwarna putih yang ada. Biarpun kamu tidak memiliki kuping, tapi justru
kamulah yang bisa menolong. Mau kan??” Cangkir Putih pun setuju untuk menolong.
Sekarang acara jamuan minum teh itu
menjadi tambah meriah.
Ada sesuatu yang unik lho. Cangkir Putih
tak berkuping menjadi penolong bagi cangkir berwarna yang lainnya.
Iya mengaduk teh sampai sesuai kekentalan
warnanya, sebelum menuangkan teh itu ke cangkir berwarna yang lain. Dan sejak
saat itu, Cangkir Putih tak berkuping tidak kecil hati lagi, dia tahu dirinya
berguna dan bisa menolong yang lain, walaupun ia juga memiliki kekurangan,
tidak punya kuping.
Cangkir Putih tak berkuping memang tidak
sempurna seperti cangkir yang lainnya, tapi pada suatu saat, dia menjadi
cangkir yang paling berguna dan bisa membantu saudara-saudaranya.
Sama juga dengan kita, kalau melihat ada
teman kita yang berbeda atau memiliki kekurangan, kita harus sadar, siapa tahu
dia memiliki kelebihan lain yang tidak kita miliki. Setiap orang memang
memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.
Bertemanlah dengan semua yang baik, dan
belajarlah menjadi seseorang yang berguna di bidangnya masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar