Minggu, 17 November 2013

CANGKIR PUTIH TIDAK BERKUPING


Adik-adik, jika kalian pernah melihat ibu kalian memiliki satu set cangkir minum teh di rumah, pernah nggak kalian menghitung ada berapa jumlah semua cangkirnya?

Biasanya jumlahnya ada enam cangkir. Lalu ada satu teko yang biasanya untuk minum teh. Cangkir-cangkir itu warnanya macam-macam. Ada yang berwarna merah, kuning, hijau, biru, ungu. Tapi diantara cangkir-cangkir berwarna tadi, ada yang warnanya putih tapi dia tidak memiliki kuping. Cangkir putih ini terlihat diam saja di tempatnya.
Ada apa ya? Sedangkan cangkir-cangkir yang lain berkumpul di dalam lemari.
Sepertinya mereka akan bersiap-siap pergi. Mau ke mana ya, kira-kira?

”Lihat dong!! Aku si cangkir merah, warnaku cerah dan bersih!!! Ya kan?”
Kata si cangkir merah kepada saudara-saudara cangkir yang lain.

”Aku juga!! Cangkir hijau yang caaaaantiiiiik, hihihihihihi.”
Si cangkir hijau pun tak mau kalah.

”Aku juga, aku juga bersih dan cantik!!”
Cangkir-cangkir lainnya pun tidak mau kalah.

Tiba-tiba Ibu Teko datang menghampiri mereka.
”Sudah. Sudah anak-anak. Kalian memang sudah sangat cantik, bersih dan siap untuk jadi cangkir minuman terbaik sore ini.”
Semua cangkir berteriak kegirangan.

Hari itu memang sedang ada persiapan acara minum teh di rumah Bu Fanny.
Dan semua cangkir cantik itu sedang bersiap-siap.
Tapi ditengah persiapan, Ibu Teko mengatakan sesuatu kepada Cangkir Putih yang tidak berkuping, ”Putih, sepertinya tamu yang datang nanti ada lima orang dan sudah dipilih saudara-saudaramu yang lain yang akan menyediakan teh buat para tamu.”

Ternyata itu alasannya kenapa Cangkir Putih yang tak berkuping diam saja sejak tadi.
Dia merasa sedih, karena dirinya tidak akan disediakan di meja. Itu artinya dia akan sendirian di dalam lemari milik Bu Fanny. Sementara saudara-saudaranya yang lain, pasti senang menjadi penyaji teh buat para tamu dan tampil dengan cantik. Kasihan dia. Cangkir Putih hanya bisa melihat dari balik kaca lemari, sementara yang lainnya bersenang-senang.

”Kupingku patah, aku pasti cangkir yang paling buruk. Beda dengan saudara-saudaraku, kuping mereka lengkap semua dan orang-orang sepertinya lebih senang memakai cangkir yang berwarna untuk menyajikan teh.” Cangkir Putih bersedih dalam hati.

Karena kebandelannya sendiri, Cangkir Putih suatu hari pernah tidak menuruti nasehat Ibu Teko untuk tidak main-main ke pinggir rak lemari. Jadinya karena kesenangan bermain dan berguling-guling, Cangkir Putih terjatuh dan kehilangan kupingnya. Sejak saat itu Cangkir Putih tidak pernah dipilih lagi untuk menyajikan minuman buat para tamu.

Tapi hari ini kok ada yang aneh di acara minum tehnya?!
Cangkir-cangkir tersebut panik karena para tamu mencari cangkir berwarna putih.
Wadah cangkir berwarna putih dianggap oleh para tamu bisa dengan jelas memperlihatkan warna teh yang pas dengan selera kekentalannya, semakin teh itu berwarna gelap, maka pasti rasanya semakin pahit, tapi kalau terlalu bening, rasa tehnya juga tidak akan terasa.

Ibu Teko kemudian menghampiri si cangkir putih tak berkuping, ”Putih, inilah saatnya kamu bisa menjadi cangkir yang akan bisa membantu saudara-saudaramu lainnya. Hanya kamu satu-satunya cangkir berwarna putih yang ada. Biarpun kamu tidak memiliki kuping, tapi justru kamulah yang bisa menolong. Mau kan??” Cangkir Putih pun setuju untuk menolong.

Sekarang acara jamuan minum teh itu menjadi tambah meriah.
Ada sesuatu yang unik lho. Cangkir Putih tak berkuping menjadi penolong bagi cangkir berwarna yang lainnya.

Iya mengaduk teh sampai sesuai kekentalan warnanya, sebelum menuangkan teh itu ke cangkir berwarna yang lain. Dan sejak saat itu, Cangkir Putih tak berkuping tidak kecil hati lagi, dia tahu dirinya berguna dan bisa menolong yang lain, walaupun ia juga memiliki kekurangan, tidak punya kuping.

Cangkir Putih tak berkuping memang tidak sempurna seperti cangkir yang lainnya, tapi pada suatu saat, dia menjadi cangkir yang paling berguna dan bisa membantu saudara-saudaranya.

Sama juga dengan kita, kalau melihat ada teman kita yang berbeda atau memiliki kekurangan, kita harus sadar, siapa tahu dia memiliki kelebihan lain yang tidak kita miliki. Setiap orang memang memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Bertemanlah dengan semua yang baik, dan belajarlah menjadi seseorang yang berguna di bidangnya masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar