Sampai ada teman menari yang kerap komentar, "Kamu kelihatan segar sekarang, pasti beratmu naik". Benar juga, aku menimbang massa badan di kiloan ruang tamu tempat kerja, ternyata memang massa (yang benar adalah massa bersatuan kilogram, bukan berat yang satuannya Newton) badanku naik satu kilo.
Belum lagi ketika, masih orang yang sama, berkata, "Kamu kurusan sekarang, kurang fresh", saya buru-buru nimbang, dan lenyaplah satu setengah kilogram massa badan entah ke mana.
Berbeda dengan perempuan yang jamak merasa panik jika angka timbangan bertambah. Saya justru sebaliknya, merasa antusias dan senang sekali kalau timbangan menunjukkan penambahan angka. Sejak kecil saya bertubuh kurus, mau makan berapa banyak pun -dan memang saya makannya selalu banyak, tetap saja kurus. Rasanya mustahil sekali memiliki massa badan di atas 45 kg. Paling mentok yang saya ingat hanya mencapai 43 kg.
Lama kelamaan, saya menganggap tubuh kurus begini adalah nasib dan keberuntungan yang diberikan Tuhan yang Maha Kuasa supaya saya boleh makan berapa saja tanpa khawatir berat bertambah. Jadinya, saya nggak pernah merasa harus peduli terhadap timbangan. Paling ya angkanya gitu-gitu aja. Meskipun dalam hati saya berharap 'mbok nambah to awakku iki, ben isi sitik'.
Sampai ketika saya mulai rutin menari, kawan-kawan saya tubuhnya juga nggak jauh-jauh dari saya. Ada yang kurus banget, ada yang agak gemukan, ada yang kayak gitar spanyol, yang gemuk banget juga ada. Nah, karena sering berlatih bersama, apalagi latihannya hampir selalu di ruang kaca, otomatis kami bisa menilai bentuk tubuh masing-masing sambil membandingkan.
Termasuk kawan saya, yang kebetulan menyadari perubahan tubuh saya, tempo hari bilang kalau saya tambah berisi. Lah, saya kaget, selama ini saya nggak sadar sama berat badan, ehh, tiba-tiba ada orang lain serta merta bilang saya tambah gemuk. Senang? Ya senang lah. Daripada dibilang tambah kurus, saya lebih senang mengetahui bahwa saya tambah berisi.
Pulang dari latihan itu, saya berdiri di depan kaca yang besar. Memandangi tubuh, pipi, sedikit timbunan lemak di perut (alhamdulillah masih tetap rata), lengan yang lumayan padat, termasuk bagian-bagian pembuluh darah yang biasa tampak jalur biru di sekitar leher yang kian menutup. Saya tersenyum, saya lebih suka tubuhku yang sekarang, tampak lebih segar (kata temenku) dan sehat.
Sejak itu saya menjadi orang yang lebih titen dan suka memperhatikan apapun. Terutama perubahan pada diri sendiri. Nggak hanya masalah massa badan, tapi juga perubahan kulit, mata, dsb. Yang paling lucu ya akhirnya saya menyadari bahwa saya punya langganan sakit maag, dan suka bersin-bersin karena alergi. Sebelumnya saya nggak pernah masalah dengan gangguan-gangguan itu, pikir saya, selama nggak mengganggu banget dan bisa minum obat, ya udah, biarkan saja. Tapi ternyata anggapan seperti itu nggak selamanya berlaku. Adakalanya, seiring dengan penambahan umur (ini pengakuan kalau saya makin tua. Hihi), makin pentinglah menjaga kesehatan. Alergi dan gangguan yang 'cuma' begitu ternyata perlu kita ketahui penyebabnya. Misalnya saja, saya sakit maag, itu sebabnya karena perut dalam keadaan kosong dipaksain keluar malam-malam. Saya bersin-bersin itu karena alergi produk sabun mandi. Saya mengalami kram perut hebat menjelang menstruasi, itu pasti karena selama sebulan sebelumnya tidak pernah olahraga. Kantung mata saya membengkak, itu pasti karena kurang tidur. Muka saya kemerahan, pasti karena abis terpapar matahari dalam waktu lama.
Dengan kita mengetahui ritme badan sendiri, pastinya kita akan berusaha menghindari faktor-faktor penyebab gangguan-gangguan itu. Saya pernah baca di artikel kedokteran di sebuah tabloid, bunyinya kurang lebih begini "Ibarat mobil yang menyuarakan alarm kehabisan bahan bakar, maka yang kita lakukan ya mengisi bahan bakar itu, bukannya memukul alarm supaya berhenti berbunyi. Begitu pula dengan tubuh, kalau ia bereaksi tertentu, obati penyebabnya, alih-alih mengabaikan dan membiarkannya tetap ada".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar